kenapa harus begini lagi? Aku kira, peristiwa penuh air mata di akhir
januari lalu adalah akhir dari prasangka dan pertengkaran kita. aku
kira, ini takkan pernah terjadi lagi.
tapi memang selalu begitu, saat semuanya membaik, belum pernah
bertahan lama, seminggu, 10 hari, 15 hari, 20 hari, lalu keadaan baik
itu menguap entah kemana.
Ahhh, aku masih saja menaruh doa dan harapku padamu. padamu yang
ternyata terus meragu. Mungkin doa, harap, dan rindu ini sedang bertepuk
sebelah, saat aku semakin rindu dan menyayang, kamu malah terus meragu
dan pergi.
Apalagi, ada ini, bahwa hidupmu akan baik-baik saja tanpa aku. Padahal aku, hidupku sepi, dan rindu merusak suasana hati, ketika kamu pergi.
Air mata itu, cerita tentang akulah wanita yang kamu temui hingga
kamu sempat merasa cinta, pembicaraan serius tentang masa depan aku (dan
kamu), pura-purakah? jika benar hanya sebuah kepura-puraan, mengapa aku
percaya sepenuh hati, atau mungkin aku yang terlalu kagum karena
piawainya kamu bermain peran.
Bagiku, mencintaimu adalah kehidupan. Maka biarkan aku hidup, walau
ternyata objek yang kucinta pergi dan membangun dunianya sendiri.
ahh, mengapa aku harus begitu lemah dan tergantung padamu, menutup
hati pada semua kemungkinan, sedangkan engkau menguat disana, mencoba
melepaskan aku, meragu, dan mencari sosok lain yang menenangkanmu… tapi
cinta tetaplah kehidupan untukku. apa pun yang kamu lakukan, aku tak
bisa berhenti menaruh hati dan mencinta, karena aku ingin tetap hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar