Sabtu, 18 Februari 2012

Kamu. .

kenapa harus begini lagi? Aku kira, peristiwa penuh air mata di akhir januari lalu adalah akhir dari prasangka dan pertengkaran kita. aku kira, ini takkan pernah terjadi lagi.

tapi memang selalu begitu, saat semuanya membaik, belum pernah bertahan lama, seminggu, 10 hari, 15 hari, 20 hari, lalu keadaan baik itu menguap entah kemana.
Ahhh, aku masih saja menaruh doa dan harapku padamu. padamu yang ternyata terus meragu. Mungkin doa, harap, dan rindu ini sedang bertepuk sebelah, saat aku semakin rindu dan menyayang, kamu malah terus meragu dan pergi.
Apalagi, ada ini, bahwa hidupmu akan baik-baik saja tanpa aku. Padahal aku, hidupku sepi, dan rindu merusak suasana hati, ketika kamu pergi.
Air mata itu, cerita tentang akulah wanita yang kamu temui hingga kamu sempat merasa cinta, pembicaraan serius tentang masa depan aku (dan kamu), pura-purakah? jika benar hanya sebuah kepura-puraan, mengapa aku percaya sepenuh hati, atau mungkin aku yang terlalu kagum karena piawainya kamu bermain peran.

Bagiku, mencintaimu adalah kehidupan. Maka biarkan aku hidup, walau ternyata objek yang kucinta pergi dan membangun dunianya sendiri.
ahh, mengapa aku harus begitu lemah dan tergantung padamu, menutup hati pada semua kemungkinan, sedangkan engkau menguat disana, mencoba melepaskan aku, meragu, dan mencari sosok lain yang menenangkanmu… tapi cinta tetaplah kehidupan untukku. apa pun yang kamu lakukan, aku tak bisa berhenti menaruh hati dan mencinta, karena aku ingin tetap hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar